Arsenal Juara, West Ham Terdegradasi: Drama Papan Klasemen di Malam Penutup Premier League 2026

Arsenal Juara, West Ham Terdegradasi: Drama Papan Klasemen di Malam Penutup Premier League 2026
Ditulis Oleh
Jurgen
Jurgen
Ditinjau Oleh
Terbit Mei 25, 2026
Diperbarui Mei 26, 2026
5 Menit Baca

Premier League menutup musim 2025/26 dengan cara yang paling khas: penuh drama, penuh emosi, dan hasil papan klasemen yang sulit ditebak bahkan untuk penggemar yang mengikuti prediksi skor maupun prediksi hasil pertandingan sepanjang musim ini. 

Di satu sisi, ribuan fans Arsenal akhirnya bisa merayakan momen yang sudah mereka tunggu lebih dari dua dekade. Di sisi lain, West Ham United harus menerima kenyataan pahit terdegradasi meski menang besar di laga terakhir musim ini.

Info Pertandingan
NODE: 1958
Aston Villa Club Crest
Aston Villa
19:00
VS
PL
Arsenal Club Crest
Arsenal
Analisis

Sepuluh pertandingan dimainkan secara bersamaan pada Minggu malam. Dan ketika seluruh peluit panjang berbunyi, Premier League menutup musim dengan cerita yang rasanya terlalu liar untuk ditulis sejak awal.

Arsenal Mengangkat Trofi Setelah Penantian 22 Tahun

Di Selhurst Park, semuanya terasa seperti pelepasan penantian panjang.

Arsenal datang ke markas Crystal Palace dengan satu misi terakhir: memastikan musim luar biasa mereka berakhir dengan trofi Premier League. Mereka berhasil melakukannya lewat kemenangan 2-1, sebelum akhirnya Martin Odegaard mengangkat trofi liga di depan para pendukung Arsenal yang sudah menunggu momen itu selama 22 tahun.

Tidak ada drama gol menit akhir. Tidak ada comeback gila seperti beberapa musim sebelumnya. Tapi justru itu yang membuat malam Arsenal terasa berbeda. Mereka tidak sekadar juara karena keberuntungan di akhir musim, mereka menjadi tim terbaik sepanjang tahun.

Skuad asuhan Mikel Arteta menutup musim dengan 85 poin, unggul tujuh angka dari Manchester City yang finis di posisi kedua. Hasil tersebut juga langsung mengubah papan klasemen akhir Premier League sekaligus mengakhiri dominasi City dalam beberapa musim terakhir. 

“Itu indah,” kata Arteta setelah pertandingan. “Melihat kebahagiaan semua orang, mereka sudah menunggu sangat lama.”

Bagi fans Arsenal, trofi ini terasa lebih besar dari sekadar gelar liga. Setelah bertahun-tahun nyaris jatuh, dan terus dibandingkan dengan era Invincibles asuhan Arsene Wenger, Arsenal akhirnya kembali berdiri di puncak sepak bola Inggris.

Dan musim mereka bahkan belum selesai. Minggu depan, Arsenal masih akan memainkan final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain kesempatan untuk mengubah musim hebat menjadi musim bersejarah.

Kemenangan Telak Tidak Mampu Menyelamatkan West Ham dari Degredasi

Sementara Arsenal berpesta di London selatan, suasana berbeda total terasa di timur London.

West Ham sebenarnya melakukan tugas mereka dengan sempurna. Mereka mengalahkan Leeds United 3-0 di laga terakhir musim. Para fans sempat berharap hasil itu cukup untuk  membantu mereka klaim poin penuh demi menjaga peluang bertahan.

Masalahnya, nasib mereka tidak lagi sepenuhnya berada di tangan sendiri.

Di saat yang sama, Tottenham Hotspur berhasil mengalahkan Everton dan memastikan diri bertahan di papan klasemen Premier League. Hasil itu langsung menghancurkan harapan West Ham.

Dengan koleksi 39 poin, West Ham resmi terdegradasi ke Championship untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir.

Tidak ada cara yang lebih menyakitkan untuk turun kasta selain menang di pertandingan terakhir tetapi tetap gagal bertahan.

Musim West Ham memang terasa kacau sejak awal. Inkonsistensi, masalah lini belakang, hingga kesulitan menjaga performa di pertandingan besar membuat mereka terus berada di zona berbahaya hampir sepanjang musim.

Kini mereka harus menerima kenyataan pahit: musim depan tidak ada lagi Premier League di London Stadium.

Perebutan Tiket Eropa Tidak Kalah Gila

Drama Premier League malam itu juga terasa di perebutan tiket kompetisi Eropa.

Liverpool berhasil mengamankan tempat di Liga Champions setelah menutup musim di posisi empat besar. Sementara Bournemouth menciptakan sejarah baru dengan memastikan tiket Liga Europa pencapaian terbesar klub tersebut di era modern.

Brighton juga menutup musim dengan cara yang impresif. Mereka menghancurkan Manchester United 3-0 dan memastikan tempat di kompetisi Eropa musim depan.

Hasil itu sekaligus menjadi penutup yang manis untuk Roberto De Zerbi, yang kembali menunjukkan bahwa Brighton tetap bisa bersaing meski terus kehilangan pemain penting setiap musim.

Satu cerita mengejutkan lain datang dari Sunderland. Sebagai tim promosi, mereka justru berhasil mengakhiri musim dengan tiket Liga Eropa sesuatu yang bahkan hampir tidak masuk prediksi di awal musim.

Persaingan menuju kompetisi Eropa malam itu terasa seperti fase grup turnamen besar, di mana satu hasil pertandingan saja bisa langsung mengubah nasib beberapa klub dalam hitungan menit. 

Sementara itu, Burnley dan Wolves sudah lebih dulu dipastikan terdegradasi sebelum pekan terakhir dimainkan. Kedua klub tersebut kini akan menemani West Ham di Championship musim depan.

Akhir Era Pep Guardiola di Manchester City, Finis Peringkat 2 di Papan Klasemen

Di tengah seluruh drama malam penutup Premier League, ada satu momen lain yang juga menyita perhatian: pertandingan terakhir Pep Guardiola bersama Manchester City.

Musim ini memang tidak berakhir dengan trofi liga untuk City. Arsenal tampil lebih konsisten dan berhasil menghentikan dominasi mereka dalam beberapa tahun terakhir. Namun kekalahan dalam perebutan gelar tidak menghapus warisan besar Guardiola di Premier League.

Selama hampir satu dekade, Guardiola mengubah Manchester City menjadi standar baru sepak bola Inggris. Karena itu, ketika peluit panjang berbunyi di laga terakhir musim ini, suasana emosional langsung terasa di stadion. Fans dan para pemain memberikan penghormatan untuk sosok yang selama bertahun-tahun membawa City mendominasi Inggris dan Eropa.

Musim yang Akhirnya Menjadi Milik Arsenal

Pada akhirnya, papan klasemen hanya akan mencatat angka.

Arsenal juara dengan 85 poin. Manchester City finis kedua dengan 78 poin. Manchester United menutup musim di posisi ketiga dengan 71 poin.

Tetapi Premier League musim ini akan diingat bukan hanya karena angka-angka tersebut.

Musim ini akan diingat karena Arsenal akhirnya mematahkan penantian panjang mereka. Karena West Ham menang tetapi tetap terdegradasi. Karena perebutan Eropa berlangsung sampai menit-menit terakhir.

Dan di atas semuanya, papan klasemen musim ini akan diingat karena satu pemandangan di Selhurst Park: Martin Odegaard berdiri sambil mengangkat trofi Premier League, sementara ribuan fans Arsenal menyanyikan lagu yang sudah mereka tunggu untuk dinyanyikan lagi selama lebih dari dua dekade.

Jurgen
Tentang Analis

Jurgen

Analis Sepak Bola

Penggemar bola yang lebih dulu ngecek statistik dan rekor pertemuan sebelum berani menebak skor. Menulis analisis dan prediksi laga-laga besar Eropa sampai Piala Dunia di PredictPlay, dengan gaya santai tapi tetap ada dasarnya.

Lihat Profil Analis
Berita Lainnya

Berita Terkait