Cafu: Timnas Brazil Harus Berhenti bergantung pada Neymar untuk Piala Dunia 2026

Cafu: Timnas Brazil Harus Berhenti bergantung pada Neymar untuk Piala Dunia 2026
Ditulis Oleh
Jurgen
Jurgen
Ditinjau Oleh
Terbit Jun 07, 2026
Diperbarui Jun 07, 2026
5 Menit Baca

Brazil selalu punya satu hal yang bikin lawan ngeri: deretan pemain bintang yang bisa mengubah pertandingan dalam satu momen. Dari era Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Rivaldo, sampai sekarang muncul nama seperti Neymar, Vinicius Junior, dan Raphinha. Tapi menurut legenda Brazil, Cafu, ada satu masalah yang sudah terlalu lama menghantui Selecao: ketergantungan berlebihan kepada Neymar menjelang Piala Dunia 2026.

Brazil butuh role model baru jelang Piala Dunia 2026

Dalam wawancara terbarunya, Cafu menyebut Brazil terlalu lama bermain dengan pola yang hampir sama dan menjadikan Neymar sebagai penyelamat di setiap situasi. Ketika pertandingan buntu, semua mata langsung tertuju kepadanya. Ketika tim kesulitan membongkar pertahanan lawan, Neymar lagi yang diharapkan muncul dengan skill atau momen ajaib. Cafu berpendapat pola seperti ini tidak sehat jika Brazil benar-benar ingin kembali menjuarai Piala Dunia.

Info Pertandingan
NODE: 2048
Man United Club Crest
Man United
19:00
VS
Champions League
Sabah FA Club Crest
Sabah FA
Analisis

Cafu merasa sudah waktunya Brazil punya lebih banyak pemimpin di lapangan. Bukan cuma satu superstar yang memikul semua tekanan, sementara pemain lain sekadar mengikuti permainan. Karena dalam sepak bola modern, tim juara biasanya lahir dari kolektivitas, bukan hanya dari satu pemain yang terus dipaksa tampil sempurna.

Nama yang paling disorot Cafu untuk mengambil peran lebih besar adalah Vinicius Junior dan Raphinha. Dua pemain ini dianggap punya kualitas untuk jadi wajah baru Brazil menuju Piala Dunia 2026. Vinicius sudah membuktikan diri bersama Real Madrid sebagai salah satu winger paling berbahaya di dunia. Kecepatannya, kemampuan duel satu lawan satu, dan insting menyerang membuatnya jadi ancaman besar hampir di setiap pertandingan.

Sementara itu, Raphinha berkembang menjadi pemain yang semakin matang. Bersama FC Barcelona, ia menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pemain pelengkap. Dalam beberapa pertandingan penting, Raphinha justru tampil lebih menentukan dibanding pemain lain yang lebih populer.

Namun masalahnya, performa di level klub belum sepenuhnya konsisten terbawa ke tim nasional. Ini yang menjadi perhatian Cafu. Menurutnya, pemain seperti Vinicius dan Raphinha harus mulai punya mental untuk mengambil alih pertandingan saat mengenakan jersey Brazil, bukan hanya nyaman menjadi pendamping Neymar.

Solusi Brazil memimpin papan klasmen Piala Dunia 2026

Ucapan Cafu cukup menggambarkan kondisi Brazil beberapa tahun terakhir. Ketika Neymar bermain bagus, Brazil terlihat sangat berbahaya. Tapi ketika Neymar cedera, kehilangan ritme, atau dikunci lawan, permainan Brazil sering ikut menurun. Situasi ini terlihat jelas di beberapa turnamen besar terakhir. Brazil butuh sosok baru agar mereka bisa mengangkat trofi Piala Dunia 2026.

Di Piala Dunia 2022 misalnya, Brazil datang dengan status unggulan. Skuad mereka dipenuhi pemain top Eropa. Namun saat menghadapi Kroasia di babak perempat final, Brazil tetap gagal melangkah lebih jauh. Banyak yang menilai tim itu terlalu bergantung pada kreativitas Neymar dan kurang punya alternatif ketika pertandingan berjalan tidak sesuai rencana.

Padahal kalau melihat sejarah, Brazil yang sukses biasanya punya banyak pemain yang bisa tampil sebagai pembeda. Generasi 2002 menjadi contoh paling jelas. Saat itu ada Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, Cafu, dan banyak nama lain yang sama-sama bisa menentukan hasil pertandingan. Lawan tidak bisa fokus menghentikan satu pemain saja karena ancaman datang dari mana-mana.

Cafu merasa aura seperti itu mulai hilang dari timnas Brazil modern menjelang Piala Dunia 2026. Sekarang Selecao memang masih dipenuhi pemain berbakat, tetapi karakter timnya belum terasa sekuat generasi terdahulu. Kadang Brazil terlihat luar biasa saat menyerang, tapi di pertandingan lain justru kesulitan menghadapi lawan yang bermain disiplin dan rapat.

Hal ini juga tidak lepas dari kondisi Neymar sendiri. Secara kualitas, hampir tidak ada yang meragukan kemampuan pemain Santos FC tersebut. Neymar tetap menjadi salah satu talenta terbaik yang pernah dimiliki Brazil dalam dua dekade terakhir. Skill, visi bermain, dan kreativitasnya masih berada di level elite.

Tetapi usia dan kondisi fisik mulai menjadi pertanyaan besar. Cedera yang berulang membuat Neymar semakin sulit menjaga konsistensi. Dalam beberapa musim terakhir, ia lebih sering absen dibanding masa-masa awal kariernya. Karena itu, Cafu merasa Brazil tidak boleh terus menggantungkan masa depan hanya kepada satu pemain.

Situasi ini juga sejalan dengan pandangan pelatih anyar Brazil, Carlo Ancelotti. Pelatih asal Italia tersebut disebut ingin membangun tim yang lebih seimbang dan fleksibel untuk Piala Dunia 2026. Neymar tetap penting, tetapi status bintang besar tidak otomatis menjamin tempat utama jika kondisi fisiknya tidak maksimal.

Pendekatan itu sebenarnya cukup masuk akal. Sepak bola modern sekarang menuntut intensitas tinggi. Tim juara biasanya punya sistem yang tetap berjalan meskipun satu pemain absen. Argentina saat menjuarai Piala Dunia 2022 memang punya Lionel Messi, tetapi mereka juga memiliki pemain-pemain yang rela bekerja keras di segala lini. Ada yang bertugas menjaga tempo, ada yang fokus bertahan, dan ada yang siap menjadi pembeda di momen penting.

Brazil saat ini sedang berada di persimpangan. Mereka punya banyak pemain muda berbakat, tetapi masih mencari identitas permainan yang benar-benar solid agar bisa berpeluang mengangkat trofi Piala Dunia 2026. Vinicius Junior mulai dipandang sebagai calon wajah utama baru Selecao. Di sisi lain, pemain seperti Rodrygo, Endrick, dan Raphinha juga diharapkan bisa memberi dimensi berbeda.

Jika generasi baru ini mampu berkembang bersama, Brazil punya peluang besar kembali jadi kandidat kuat juara dunia. Tetapi kalau mereka masih terlalu bergantung pada Neymar seperti beberapa tahun terakhir, kekhawatiran Cafu bisa saja menjadi kenyataan.

Karena pada akhirnya, Piala Dunia 2026 bukan cuma soal punya pemain paling terkenal. Turnamen sebesar itu lebih sering dimenangkan oleh tim yang punya keseimbangan, mental kuat, dan banyak pemain yang siap mengambil tanggung jawab. Brazil sudah punya kualitas individu yang luar biasa. Sekarang tantangannya adalah mengubah kumpulan bintang itu menjadi tim yang benar-benar siap bersaing untuk trofi terbesar di dunia.

Jurgen
Tentang Analis

Jurgen

Analis Sepak Bola

Penggemar bola yang lebih dulu ngecek statistik dan rekor pertemuan sebelum berani menebak skor. Menulis analisis dan prediksi laga-laga besar Eropa sampai Piala Dunia di PredictPlay, dengan gaya santai tapi tetap ada dasarnya.

Lihat Profil Analis
Berita Lainnya

Berita Terkait