Tak Terkalahkan di Fase Grup, Arsenal Tumbang di Final. PSG Juara Liga Champions 2026

Tak Terkalahkan di Fase Grup, Arsenal Tumbang di Final. PSG Juara Liga Champions 2026
Ditulis Oleh
Jurgen
Jurgen
Ditinjau Oleh
Terbit Jun 01, 2026
Diperbarui Jun 01, 2026
5 Menit Baca

Delapan laga di fase grup, delapan kemenangan, nol kekalahan.

Arsenal datang ke Final Liga Champions 2026 dengan status sebagai salah satu tim paling konsisten sepanjang turnamen. Mereka memuncaki papan klasemen fase grup dengan rekor sempurna, mencetak 23 gol dan hanya kebobolan empat kali. Performa tersebut membuat banyak pihak menjagokan The Gunners untuk mengakhiri penantian panjang mereka di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa.

Info Pertandingan
NODE: 1965
Al-Ahli Jeddah Club Crest
Al-Ahli Jeddah
18:00
VS
SPL
Al Riyadh Club Crest
Al Riyadh
Analisis

Namun sepak bola sering kali menghadirkan cerita yang sulit ditebak.

Di Puskás Aréna, Budapest, perjalanan impresif Arsenal harus berakhir dengan cara yang paling menyakitkan. Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit, tim asuhan Mikel Arteta kalah 4-3 lewat adu penalti dari PSG.

Hasil itu membuat PSG sukses mempertahankan gelar Liga Champions dan melanjutkan dominasi mereka di Eropa dalam dua musim terakhir. 

Arsenal Membawa Mentalitas Fase Grup ke Final

Arsenal langsung menunjukkan alasan mengapa mereka mampu melaju hingga partai puncak.

Baru lima menit pertandingan berjalan, Kai Havertz memanfaatkan kesalahan lini belakang PSG. Bola liar yang jatuh di area berbahaya langsung disambar dengan tembakan keras yang gagal dijangkau Safonov. Arsenal unggul 1-0.

Gol tersebut mengejutkan banyak pihak. PSG datang sebagai juara bertahan sekaligus favorit juara, tetapi Arsenal tampil tanpa rasa takut. Mereka bermain dengan disiplin yang sama seperti saat mendominasi fase grup dan tidak memberi banyak ruang bagi PSG untuk mengembangkan permainan.

Yang menarik, Arsenal hanya mencatat 26 persen penguasaan bola. Namun angka tersebut tidak mengurangi efektivitas permainan mereka. Struktur pertahanan yang rapat dan transisi cepat membuat PSG kesulitan menciptakan peluang bersih sepanjang babak pertama.

Fabian Ruiz sempat mengancam lewat situasi bola mati, sementara Désiré Doué beberapa kali mencoba tembakan dari luar kotak penalti. Namun hingga turun minum, Arsenal tetap mampu mempertahankan keunggulan 1-0.

Pada titik itu, Arsenal terlihat seperti tim yang siap menyempurnakan perjalanan mereka musim ini.

PSG Bangkit dan Memaksa Adu Penalti

Memasuki babak kedua, situasi mulai berubah.

PSG meningkatkan intensitas permainan dan mulai menekan lebih agresif. Tekanan yang terus datang dari sisi kiri akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-65 ketika Khvicha Kvaratskhelia dijatuhkan Cristhian Mosquera di dalam kotak penalti.

Ousmane Dembélé yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya dengan baik. Tendangannya tidak mampu dihentikan David Raya dan membuat skor berubah menjadi 1-1.

Gol tersebut menjadi titik balik pertandingan.

Untuk pertama kalinya dalam pertandingan, mereka benar-benar terlihat mengendalikan momentum. Aliran bola menjadi lebih cepat, pressing semakin agresif, dan Arsenal dipaksa bertahan lebih dalam dibanding sebelumnya.

Untuk pertama kalinya dalam laga ini, Arsenal terlihat kehilangan kendali atas tempo permainan. PSG semakin percaya diri, sementara Arsenal harus bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan tim.

Meski begitu, The Gunners tetap menunjukkan ketenangan yang menjadi ciri mereka sepanjang musim. Beberapa peluang sempat tercipta dari serangan balik cepat, tetapi tidak ada yang mampu mengubah skor.

Hingga waktu normal berakhir, kedudukan tetap imbang.

Pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu.

Selama 30 menit extra time, kedua tim bermain lebih hati-hati. Risiko melakukan kesalahan terasa terlalu besar ketika trofi Liga Champions tinggal selangkah lagi. Namun hingga peluit panjang dibunyikan, skor tetap bertahan 1-1.

Final Liga Champions 2026 akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti.

Mimpi Arsenal Berakhir dari Titik Putih 

Martinelli membuka adu penalti dengan sempurna untuk Arsenal.

Adu penalti berlangsung ketat. Martinelli, Rice, dan Gyökeres berhasil menjalankan tugasnya untuk Arsenal, sementara PSG juga tampil sempurna dari titik putih.

Situasi berubah ketika Eberechi Eze gagal memanfaatkan peluang untuk memberi tekanan kepada lawan. Tendangannya melebar dan membuat PSG berada di posisi yang lebih menguntungkan.

Ketegangan mulai meningkat ketika Eberechi Eze gagal memanfaatkan kesempatan untuk memberi tekanan kepada PSG. Tendangannya melebar dari sasaran dan memberi keuntungan bagi lawan.

PSG tidak menyia-nyiakan peluang tersebut.

Seluruh penendang mereka mampu menjalankan tugas dengan baik hingga tekanan berpindah sepenuhnya ke kubu Arsenal.

Momen paling menentukan kemudian datang di kaki Gabriel Magalhães.

Sepanjang pertandingan, bek asal Brasil tersebut tampil disiplin dan menjadi salah satu pemain terbaik Arsenal. Ia berkali-kali mematahkan serangan PSG dan membantu timnya bertahan selama 120 menit.

Kini seluruh harapan Arsenal berada di satu tendangan yang harus ia lakukan.

Gabriel maju dengan harapan menjaga peluang Arsenal tetap hidup. Namun tendangannya melambung di atas mistar gawang dan memastikan kemenangan PSG 4-3 lewat adu penalti. 

Para pemain PSG langsung berhamburan ke tengah lapangan untuk merayakan keberhasilan mempertahankan gelar Liga Champions. Di sisi lain, para pemain Arsenal terduduk lesu, tidak percaya perjalanan luar biasa mereka harus berakhir dengan cara seperti ini.

Rekor Sempurna Fase Grup yang Berakhir Tanpa Trofi

Kemenangan ini menegaskan status PSG sebagai salah satu tim terbaik Eropa dalam beberapa musim terakhir.

Luis Enrique kembali membuktikan kualitas timnya di panggung terbesar dan sukses membawa PSG mempertahankan gelar Liga Champions. Prestasi tersebut membuat mereka menjadi tim kedua setelah Real Madrid yang mampu meraih gelar secara beruntun di era modern.

Bagi Arsenal, kekalahan ini tentu terasa sangat menyakitkan.

Mereka mengawali kompetisi dengan performa sempurna di fase grup, memuncaki papan klasemen, menjuarai Premier League, dan mencapai final Liga Champions untuk pertama kalinya sejak 2006.

Namun sepak bola tidak selalu memberikan hadiah kepada tim dengan perjalanan terbaik.

Arsenal berhasil melewati fase grup tanpa kekalahan, menyingkirkan lawan-lawan berat di babak berikutnya, dan tampil kompetitif hingga final. Namun pada akhirnya, adu penalti menjadi pembeda yang menentukan siapa yang pulang membawa trofi.

Arsenal pulang tanpa trofi, tetapi perjalanan mereka dari fase grup hingga final menunjukkan bahwa mereka sudah kembali ke level tertinggi sepak bola Eropa. Kini pertanyaannya hanya satu: seberapa lama mereka harus menunggu untuk mendapat kesempatan berikutnya? 

Jurgen
Tentang Analis

Jurgen

Analis Sepak Bola

Penggemar bola yang lebih dulu ngecek statistik dan rekor pertemuan sebelum berani menebak skor. Menulis analisis dan prediksi laga-laga besar Eropa sampai Piala Dunia di PredictPlay, dengan gaya santai tapi tetap ada dasarnya.

Lihat Profil Analis
Berita Lainnya

Berita Terkait