Era Baru Lini Depan Selecao Lahir pada saat match Brazil vs Haiti Lewat Brace Matheus Cunha 

Era Baru Lini Depan Selecao Lahir pada saat match Brazil vs Haiti Lewat Brace Matheus Cunha 
Ditulis Oleh
Jurgen
Jurgen
Ditinjau Oleh
Terbit Jun 21, 2026
Diperbarui Jun 21, 2026
5 Menit Baca

Brazil vs Haiti di matchday kedua Grup C Piala Dunia 2026 berakhir dengan skor telak 3-0 untuk Tim Samba. Pada Sabtu pagi 07.30 WIB, 20 Juni 2026, di Lincoln Financial Field, Philadelphia, Brazil tampil mendominasi dan mencetak tiga gol di babak pertama yang membuat hasil sudah aman sejak istirahat babak pertama.

Matheus Cunha jadi bintang utama Brazil vs Haiti. Penyerang Manchester United ini mencatatkan namanya dengan brace di menit ke-23 dan ke-36. Gol ketiga datang dari Vinicius Junior di injury time babak pertama, mengunci kemenangan untuk Selecao.

Info Pertandingan
NODE: 2319
Persebaya Surabaya Club Crest
Persebaya Surabaya
12:00
VS
ID1
PSIM Yogyakarta Club Crest
PSIM Yogyakarta
Analisis

Hasil ini bukan cuma berarti tiga poin penting di papan klasemen. Brace Cunha juga menjadi sinyal bahwa Selecao mungkin sudah menemukan bintang baru di lini depan, mengisi peran yang lama ditinggalkan Neymar yang sedang absen karena cedera di Piala Dunia 2026 ini.

Matheus Cunha, Bintang Baru Brazil

Sebelum pertandingan Brazil vs Haiti, banyak yang ragu siapa yang akan menjadi ujung tombak Brazil tanpa Neymar. Cunha tidak punya nama besar yang sama dengan Vinicius Junior atau Raphinha. Tapi Sabtu pagi, semua keraguan itu hilang.

Cunha datang ke turnamen ini sebagai pilihan utama Carlo Ancelotti. Pelatih asal Italia ini berani memberi kepercayaan kepada penyerang Manchester United ini, padahal namanya tidak setenar bintang-bintang lain di skuad Selecao.

Hasilnya, kepercayaan itu langsung dibalas dengan brace di Brazil vs Haiti. Dua gol di babak pertama jadi penentu kemenangan Selecao sekaligus jadi pernyataan kalau Cunha siap memikul beban sebagai penyerang utama Brazil.

Performa ini bukan kebetulan. Cunha sebenarnya sudah konsisten di Manchester United dengan beberapa gol penting di Liga Inggris. Yang berbeda di laga ini adalah ia berada di tim dengan kualitas mendukung yang jauh lebih tinggi.

brace di Piala Dunia tidak banyak yang bisa mencapainya. Cunha jadi salah satu pencetak gol terbanyak Brazil sejauh ini di turnamen, dan catatan ini bisa jadi modal kepercayaan diri jelang laga terakhir fase grup.

Detail Babak Pertama yang Menentukan

Babak pertama Brazil vs Haiti berjalan dengan dominasi penuh dari Tim Samba. Sejak peluit awal dibunyikan, Brazil langsung menekan dan mencatat beberapa peluang berbahaya.

Di menit ke-12, Raphinha sempat membobol gawang Haiti, tapi golnya dianulir wasit karena offside. Sepuluh menit berselang, winger Barcelona itu kembali punya peluang emas. Setelah menerima umpan terobosan, ia berhadapan dengan kiper Placide dan mencoba tembakan chip, tapi bola masih melenceng tipis.

Kebuntuan baru pecah di menit ke-23. Berawal dari aksi solo Vinicius Junior di sisi kiri, tembakannya dimentahkan kiper Haiti Johny Placide. Cunha yang berada di posisi tepat langsung menyambar bola mentah dan menendang ke gawang kosong.

Tiga belas menit berselang, nama Cunha kembali tercatat di papan gol. Ia menerima umpan dari Vinicius Junior dan berlari menusuk kotak penalti Haiti sebelum menendang dengan kaki kiri ke pojok atas gawang. Eksekusi tenang yang tidak terjangkau Placide.

Di injury time babak pertama, Brazil melancarkan serangan balik cepat. Lucas Paqueta mengirim bola lambung yang langsung disambar Vinicius Junior. Penyerang Real Madrid ini membawa bola sampai depan gawang dan menembak tenang ke tiang jauh. Skor 3-0 untuk Brazil sebelum jeda.

Satu catatan negatif untuk Brazil di babak pertama adalah cedera Raphinha. Pemain Barcelona ini terpaksa ditarik di menit ke-40 dan digantikan Rayan. Cedera ini bisa jadi sorotan jelang laga matchday ketiga melawan Skotlandia.

Tanpa Neymar, Brazil Tetap Bisa Bersinar

Salah satu cerita menarik dari Brazil vs Haiti adalah bagaimana Tim Samba beradaptasi tanpa Neymar di fase grup Piala Dunia 2026. Bintang yang dulu jadi simbol Brazil belum tampil di turnamen ini, dan Ancelotti memilih struktur tim yang fokus pada kolektivitas, bukan satu pemain bintang.

Hasilnya, Brazil terlihat lebih merata. Cunha sebagai ujung tombak ditopang Vinicius di sayap kiri dan Raphinha di sayap kanan, dengan Paqueta sebagai pengatur permainan di tengah. Bruno Guimaraes dan Casemiro jadi tembok di lini tengah.

Carlo Ancelotti sebagai pelatih punya track record panjang di Eropa. Ini Piala Dunia pertamanya sebagai pelatih timnas, dan ia tampak nyaman dengan pemain-pemain yang mayoritas main di Liga Inggris dan Spanyol.

Tapi cedera Raphinha bisa jadi masalah. Penyerang Barcelona ini punya peran penting di sayap kanan, dan kalau ia tidak fit untuk laga terakhir lawan Skotlandia, Ancelotti harus pilih antara Rayan, Endrick, atau memutar formasi.

Persaingan Juara Grup C

Setelah Brazil vs Haiti, papan klasemen Grup C berubah ke arah yang menarik. Brazil naik ke puncak dengan 4 poin dan selisih gol +3, menggeser Maroko yang juga punya 4 poin tapi selisih gol lebih kecil.

Skotlandia di posisi ketiga dengan 3 poin, sementara Haiti jadi tim pertama di Piala Dunia 2026 yang dipastikan tersingkir setelah dua kekalahan. Persaingan juara Grup C praktis hanya tinggal antara Brazil dan Maroko.

Laga matchday terakhir di fase grup akan jadi penentu. Brazil akan menghadapi Skotlandia, sementara Maroko bertemu Haiti yang sudah tersingkir. Banyak prediksi skor menjagokan Brazil dan Maroko sama-sama menang, jadi juara grup akan ditentukan oleh selisih gol.

Bagi Brazil, target jelas: menang dengan margin yang lebih besar dibanding Maroko. Status sebagai juara grup berarti menghindari pertemuan dengan tim seeding tinggi di babak 32 besar. Prediksi skor untuk laga terakhir memang menjagokan kemenangan Brazil, tapi margin yang jadi penentu.

Sinyal Positif untuk Selecao Usai Laga Brazil vs Haiti

Pertandingan Brazil vs Haiti yang berakhir 3-0 bukan sekadar kemenangan biasa untuk Tim Samba. Hasil ini menunjukkan bahwa Selecao sudah mulai menemukan ritme yang tepat di Piala Dunia 2026, dan Matheus Cunha jadi salah satu kunci pembeda.

Brace Cunha melawan Haiti bisa jadi titik awal era baru lini depan Brazil. Selama bertahun-tahun, sosok bintang utama Brazil selalu identik dengan Neymar. Sekarang, Cunha menunjukkan kalau Brazil mungkin sudah menemukan pengganti yang siap.

Hasil Brazil vs Haiti ini juga jadi pengingat bahwa Brazil masih jadi salah satu kandidat juara Piala Dunia 2026. Dengan satu laga lagi sebelum babak gugur, Selecao akan masuk fase knockout sebagai favorit. Pertanyaannya cuma, seberapa jauh Cunha bisa membawa Brazil di turnamen ini.

Jurgen
Tentang Analis

Jurgen

Analis Sepak Bola

Penggemar bola yang lebih dulu ngecek statistik dan rekor pertemuan sebelum berani menebak skor. Menulis analisis dan prediksi laga-laga besar Eropa sampai Piala Dunia di PredictPlay, dengan gaya santai tapi tetap ada dasarnya.

Lihat Profil Analis
Berita Lainnya

Berita Terkait